Pemerintah Kabupaten Pacitan · Kecamatan Ngadirojo
Profil Desa Hadiluwih
“Membangun Masyarakat Hadiluwih Seutuhnya”
2.213
Penduduk
jiwa
1.112
Laki-laki
1.101
Perempuan
672
Kepala Keluarga
KK
6
Dusun
8 RW · 22 RT
330
Luas Wilayah
Hektar
Latar
Sejarah & Latar Desa
PERADABAN WENGKER PESISIR SELATAN SISIH WETAN/(NGLOROK) ABAD 13 – 19 M (1370 M – 1910 M) Berabad-abad yang lalu,Pada abad ke 14 ketika kejayaan Majapahit masih memancarkan cahaya kebesarannya ke seluruh Nusantara dan Kerajaan Wengker Kidul dikenal sebagai tanah yang luas serta kaya akan sumber kehidupan, hiduplah seorang bangsawan muda yang kelak namanya menjadi bagian dari legenda masyarakat Ponorogo, Pacitan Khusunya bagian Lorok Yang dinamakan Kecamatan Ngadirojo Sekarang. Ia adalah Ki Ageng Getas Pendawa, putra Raden Bondan Kejawan dan cucu dari Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, raja besar Majapahit yang terkenal bijaksana dan disegani. Sejak kecil, Ki Ageng Getas Pendawa tumbuh dalam lingkungan keraton yang penuh kemewahan. Ia belajar ilmu pemerintahan, keprajuritan, pertanian, pengobatan, hingga ilmu kebatinan. Namun semakin dewasa, hatinya justru merasa bahwa kehidupan istana bukanlah jalan yang ingin ditempuhnya. Ia sering merenung di taman-taman kerajaan, memandang gunung di kejauhan, dan bertanya tentang makna kehidupan yang sesungguhnya. Pada suatu malam yang sunyi, ketika rembulan bersinar terang di langit Majapahit, Ki Ageng Getas mendapat petunjuk dalam semedinya. Ia melihat sebuah gunung tinggi yang berdiri di tengah hamparan tanah liar dan belum berpenghuni. Dari puncak gunung itu memancar cahaya keemasan yang menyelimuti sebuah wilayah luas. Dalam hatinya ia mendengar suara yang berkata bahwa di tempat itulah kelak akan tumbuh sebuah peradaban yang membawa kemakmuran bagi banyak orang. Keesokan harinya, ia memutuskan meninggalkan keraton. Dengan membawa bekal secukupnya dan ditemani beberapa pengikut setia, ia memulai pengembaraan panjang melintasi Tanah Jawa. Perjalanan itu tidaklah mudah. Mereka harus menembus hutan-hutan lebat yang dipenuhi binatang buas, menyeberangi sungai yang deras, serta mendaki pegunungan yang curam. Berbulan-bulan lamanya mereka berjalan hingga akhirnya tiba di sebuah gunung yang persis seperti yang dilihat Ki Ageng Getas dalam semedinya. Gunung itu dikenal sebagai Gunung Pendowo atau Puser Bumi, yang kini disebut Gunung Duwur. Dari puncaknya terlihat hamparan rawa, hutan belantara, sungai-sungai kecil, dan tanah luas yang belum tersentuh manusia. Ki Ageng Getas berdiri di atas puncak gunung sambil memandang ke segala penjuru. Angin berembus lembut membawa aroma tanah basah dan dedaunan liar. Hatinya bergetar. "Inilah tempat yang ditunjukkan oleh Yang Maha Kuasa," ucapnya. Maka sejak saat itu, beliau menetap di kawasan tersebut. Tahun demi tahun berlalu. Ki Ageng Getas mulai membuka hutan dan membangun sebuah gubuk sederhana di lereng gunung sebagai tempat tinggal dan beribadah. Bersama para pengikutnya, ia menebang pohon-pohon besar di atas gunung lalu menurunkannya ke bawah untuk dijadikan bahan bangunan. Setiap hari masyarakat yang membantunya sering berkata, "Ayo kayu iki dislorokne menyang ngisor." Kalimat itu terus diucapkan berulang-ulang hingga akhirnya menjadi sebutan bagi wilayah yang mereka bangun. Lama-kelamaan daerah tersebut dikenal dengan nama Lorok. Nama yang sederhana itu kemudian menjadi saksi lahirnya sebuah pemukiman baru di tengah hutan dan rawa yang sebelumnya tidak berpenghuni. Sekitar tahun 1400 Masehi, Ki Ageng Getas memulai pekerjaan yang jauh lebih besar. Ia mengajak masyarakat mengubah tanah Wengker bagian sisih kidul wetan yang penuh rawa menjadi lahan pertanian yang subur. Mereka membuat saluran air, bendungan sederhana, dan petak-petak sawah. Masyarakat bekerja bersama tanpa mengenal lelah. Hutan dibuka secara bertahap, rawa dikeringkan, dan ladang mulai ditanami berbagai tanaman pangan. Keajaiban pun terjadi.Tanah yang semula dianggap angker dan tidak berguna berubah menjadi daerah yang menghasilkan panen melimpah. Padi tumbuh menguning. Buah-buahan berkembang subur. Air bersih mengalir sepanjang tahun. Nama Ki Ageng Getas semakin dihormati oleh masyarakat sekitar. Banyak orang dari daerah lain datang untuk menetap dan belajar cara bertani serta membangun kehidupan yang damai. Pada tahun 1435 Masehi, Ki Ageng Getas membangun keluarga besar. Dari keturunannya lahir para tokoh yang kelak dikenal sebagai Raden Tirto I hingga Raden Tirto VII. Keturunan-keturunan ini meneruskan nilai kebijaksanaan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dari garis keluarga yang memiliki hubungan dengan Ampel Denta lahirlah Raden Umar, Raden Ibrahim, Raden Syaifudin, dan saudara-saudaranya yang kemudian menjadi penyebar ilmu agama serta pengajar masyarakat. Waktu terus berjalan. Generasi demi generasi lahir dan tumbuh di Lorok. Suatu hari pada awal abad ke-16, datanglah seorang ulama sakti bernama Sunan Geseng. Ia adalah murid sekaligus sahabat dan murid Sunan Kalijaga yang mendapat tugas menyebarkan agama Islam ke wilayah selatan Tanah Wengker. Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Geseng mendengar tentang seorang tokoh bijaksana yang tinggal di sekitar Puser Bumi. Maka pada tahun 1510 Masehi, beliau mendatangi kediaman Ki Ageng Getas Pendawa. Konon pertemuan kedua tokoh besar itu berlangsung selama beberapa hari. Mereka berbincang mengenai kehidupan, pertanian, ilmu pengetahuan, dan pentingnya membangun masyarakat yang berakhlak luhur. Pada malam terakhir pertemuan mereka, bulan purnama menggantung di langit Gunung Duwur. Ki Ageng Getas berkata, "Tanah ini telah tumbuh karena kerja keras. Kini saatnya tumbuh pula karena ilmu dan agama." Mendengar itu, Sunan Geseng tersenyum dan memohon restu untuk berdakwah. Restu pun diberikan. Tahun berikutnya Sunan Geseng membangun sebuah pasolatan di tengah rawa sebelah selatan gunung duwur wilayah berawa - rawa. Tempat itu menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan musyawarah masyarakat. Banyak pemuda belajar membaca kitab, bertani, dan menjalani kehidupan yang penuh kedamaian. Ketika tiba saatnya melanjutkan perjalanan ke arah Timur Wengker, Sunan Geseng meninggalkan sebuah jubah dan surat pesan di dalam pasolatan. Setelah keberangkatan Sunan Geseng, Ki Ageng Getas merasa tugasnya mulai selesai. Pada tahun 1520 Masehi beliau kembali melakukan perjalanan menuju wilayah Purwodadi. Sebelum berangkat, beliau mengumpulkan seluruh keluarga dan masyarakat. "Dari tanah ini akan lahir generasi-generasi yang menjaga kebaikan. Jangan pernah saling bermusuhan. Rawatlah tanah ini sebagaimana kalian merawat keluarga sendiri."Itulah pesan terakhir yang paling dikenang masyarakat. Beberapa puluh tahun kemudian tahun 1542 Masehi, datanglah seorang bangsawan dari tanah Parahyangan bernama Kyai Ageng Bandung. Beliau merupakan keturunan Prabu Siliwangi melalui jalur Pangeran Walangsungsang atau Cakrabuana. Bersama sahabatnya, Pangeran Sanjoyo Rangin, ia mendapat restu dari penguasa Kerajaan Wengker Raden Bathara Katong untuk membuka serta mengembangkan wilayah Lorok. Saat menyusuri rawa menggunakan sampan dari arah barat, Kyai Ageng Bandung menemukan sebuah gubuk tua yang hampir tertutup semak belukar. Ketika masuk ke dalamnya, ia menemukan jubah tua dan sebuah surat yang masih tersimpan dengan baik. Setelah membaca surat peninggalan Sunan Geseng, ia merasa mendapatkan amanat untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu. Sejak saat itu, pembangunan wilayah Lorok semakin pesat. Sistem pemerintahan kademangan dibentuk dengan nama Kademangan Satreyan. Wilayah-wilayah kemudian dibagi kepada para tokoh masyarakat: Bagian barat, daerah Ngrejeng, dipimpin Ki Ageng Semare atau Ki Ageng Joko Lelono. Bagian selatan, daerah Gareng, dipimpin Ki Ageng Gareng yang kemudian berkembang menjadi Gareng Lor dan Gareng Kidul di bawah kepemimpinan Eyang Mangun. Bagian tenggara, daerah Nglebeng, dipimpin Ki Ageng Mijil atau Pangeran Hadi Condro Wijoyo. Bagian utara dipimpin langsung oleh Pangeran Sanjoyo Rangin. Sementara wilayah tengah kemudian dikelola oleh Ki Ageng Wonopolo, menantu Kyai Ageng Bandung. Di bawah kepemimpinan mereka, Lorok berkembang menjadi daerah yang aman, makmur, dan dihormati. Sawah terbentang luas, perdagangan mulai tumbuh, dan masyarakat hidup rukun. Kepemimpinan kemudian diteruskan secara turun-temurun oleh para demang dan tokoh masyarakat, mulai dari Ngabei Kyai Ageng Bandung, Ngabei Kyai Manten, Demang Citro Utomo, Demang Singo Merjoyo, hingga Demang Sastro Wijoyo. Sejak saat itu pembangunan Lorok berkembang semakin pesat. Wilayah tersebut kemudian ditata menjadi Kademangan Satreyan. Wilayah Ngrejeng dipimpin Ki Ageng Semare. Wilayah Gareng dipimpin Ki Ageng Gareng yang kemudian berkembang menjadi Gareng Lor dan Gareng Kidul yang dipimpin Eyang Mangun. Wilayah Nglebeng dipimpin Ki Ageng Mijil (Eyang Hadi Condro Wijoyo). Wilayah utara dipimpin Pangeran Sanjoyo Rangin. Sedangkan wilayah tengah dipercayakan kepada Ki Ageng Wonopolo (Menantu Kyai Ageng Bandung). Di bawah kepemimpinan Beliau, Lorok berkembang menjadi pusat pertanian dan perdagangan. Sawah-sawah terbentang luas sejauh mata memandang. Hasil panen melimpah. Penduduk hidup tenteram dan saling membantu. Pada Tahun 1544 masehi sebelah utara sendiri di kelola oleh pangeran sanjoyo rangin. Di Tahun 1570 masehi daerah tengah di kelola oleh putra mantunya kyai ageng bandung yaitu ki ageng wonopolo di tanah wiyar sekarang dinamakan Desa Wiyoro dan Desa Ngadirojo Kademangan diteruskan oleh keturunan Kyai Ageng Bandung, Pangeran Sanjoyo Rangin , Ki Ageng Wonopolo dan berkembang pesat di daerah lorok tersebut. Pimpinan kademangan dari masa ke masa yaitu : • Ngabei kyai ageng bandung (1542) • Ngabei kyai manten ( eyang satriyo) • Demang citro utomo • Demang singo merjoyo I • Demang singo merjoyo II • Demang singo merjoyo III • Demang joyo utomo • Demang merto wijoyo • Demang musto wijoyo • Demang sastro wijoyo Kisah tentang Kyai Ageng Bandung pun terus diwariskan dari mulut ke mulut. Anak-anak mendengarnya dari para orang tua. Para orang tua mendengarnya dari para sesepuh. Para sesepuh meyakini bahwa semangat Kyai Ageng Bandung masih menjaga kawasan Nglorok hingga sekarang. Ketika malam tiba dan angin bertiup dari arah gunung, masyarakat tua sering berkata bahwa itu adalah salam dari para leluhur yang mengingatkan agar generasi penerus tidak melupakan asal-usulnya. Waktu terus berjalan hingga memasuki tahun 1910 Masehi. Sistem kademangan berubah menjadi pemerintahan desa. Para tokoh masyarakat bermusyawarah untuk menentukan nama baru yang mencerminkan harapan masa depan. Maka lahirlah nama Hadiluwih di Bulan Jumadil Akhir Tahun 1328 Hijriyah, Hari Sabtu Pahing, Tanggal 18 Bulan Juni Tahun 1910 Masehi. Sebuah nama yang bermakna harapan akan kehidupan yang lebih baik, lebih mulia, lebih makmur, dan lebih sejahtera. Sejak masa Bapak Mukisan Hadi Sastro sebagai kepala desa pertama hingga para pemimpin berikutnya yaitu : • Bapak Mukisan Hadi Sastro 1910 M – 1930 M • Bapak Hadi Supatmo 1930 M – 1968 M • Bapak T Siswowiyoto 1968 M – 1983 M • Bapak Slamet Hadimulyono 1983 M – 2002 M • Bapak Jamal Subroto 2002 M – 2012 M • Bapak Basuki 2012 M – 2018 M • Bapak Sujarwo 2019 M – 2026 M Dalam semangat membangun yang diwariskan oleh Kyai Ageng Bandung terus hidup dalam hati masyarakat Desa Hadiluwih. Dan hingga kini, Gunung Duwur/Puser Bumi Nglorok masih berdiri tegak sebagai saksi perjalanan panjang tersebut. Sawah-sawah yang hijau, sumber mata air yang mengalir, dan kehidupan masyarakat Hadiluwih yang rukun menjadi bukti bahwa perjuangan para leluhur tidak pernah sia-sia. Dan menurut cerita para sesepuh, selama masyarakat Hadiluwih tetap menjaga persatuan, menghormati leluhur, merawat alam, dan saling menolong, maka berkah yang dahulu dibawa oleh Kiyai Ageng Bandung akan selalu menaungi Tanah Lorok sebagai peradaban system kepemerintahan Pertama kali di Bumi Kademangan Satreyan,dukuh Gareng,Dukuh Ngrejeng,Dukuh Nglebeng, Dukuh Satreyan, seluruh wilayah Hadiluwih Khususnya dan kecamatan Ngadirojo Umumnya untuk sepanjang masa.
Arah pembangunan
Visi & Misi
Visi
Membangun Masyarakat Hadiluwih Seutuhnya
Misi
- 1. Mewujudkan Peningkatan pembangunan mental dan spiritual
- 2. Menata dan mempertahankan Terciptanya kegiatan Pengamanan Lingkungan yang dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat dalam upaya menciptakan swasana aman dan tentram
- 3. Mewujudkan dan mendorong terjadinya usaha-usaha kerukunan antar warga masyarakat yang disebabkan karena adanya perbedaan pandangan, keyakinan, organisasi, dan lainnya dalam suasana saling menghargai dan menghormati
- 4. Menata Pemerintahan Desa Hadiluwih yang kompak dan bertanggung jawab dalam mengemban amanat masyarakat
- 5. Meningkatkan pelayanan masyarakat secara terpadu dan serius
- 6. Menumbuh Kembangkan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani
- 7. Menumbuhkembangkan usaha kecil dan menengah
- Mendorong majunya bidang pendidikan baik formal maupun informal yang mudah diakses dan dinikmati seluruh warga masyarakat tanpa terkecuali yang mampu menghasilkan insan intelektual, inovatif dan enterpreneur (wirausahawan) yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Geografis
Batas Wilayah
Sebelah Utara
Desa Tanjung Puro
Sebelah Timur
Desa hadiwarno
Sebelah Selatan
Desa hadiwarno
Sebelah Barat
Desa Sidomulyo
Jarak ke pusat kecamatan 4 km, ke ibu kota kabupaten 30 km. Dusun: Gareng Kidul, Gareng lor, Bandarangin, Setriyan, Jangkrik, Nglebeng.
Pemerintahan
Struktur Perangkat Desa

MAULANI
SEKRETARIS DESA

IMAM SAFII
KASI PEMERINTAHAN

ROBINGATIN
KASI PELAYANAN

NASEH HAMID
KASI KESEJAHTERAAN

ENJANG FISTA WIJAYANTI
KAUR KEUANGAN

SETYO PRAMONO
KAUR PERENCANAAN

NEVI SINTHA AYU ANDASARI
KAUR UMUM DAN TU

SETYO WIBOWO
KEPALA DUSUN GARENG KIDUL

SISWANTO
KEPALA DUSUN GARENG LOR

FYNNO BRILYANTORO
KEPALA DUSUN BANDARANGIN
TRI NURHADI CAHYONO
KEPALA DUSUN SETRIYAN

ROKHANI
KEPALA DUSUN JANGKRIK

SANYOTO
KEPALA DUSUN NGLEBENG
Sumber data: Pemerintah Desa Hadiluwih. Ditampilkan melalui SiSoge — layanan administrasi desa Kabupaten Pacitan.
